my clock

Selasa, 22 April 2014

"Aku Ingin Kembali Jatuh Cinta"

ini bukan pertama kali, ini untuk jutaan kali
aku sibuk merapal doa dalam hati
tuhan, semoga ketika datang saatnya takkan sesakit ini
otakku memutar rekaman jejak kembali
dari ratusan hari tak sedikitpun namamu luput dari tundukan kepala dan lipatan jari
aku tahu tuhan mendengar, aku memintamu kembali
ratusan hari kutunggu, tak ada tanda tanda kembali
tuhan tak membawamu kembali
aku lelah menanti dan meratapi

berangkali memang ada hal hal yang tak bisa dijawab oleh waktu
seperti kita, yang tak lagi aku dan kamu yang menyatu
juga kehilangan dan rindu-rindu yang terlalu
lalu apa masih pantas aku menunggu?

hari ini aku
 diam, otakku terus memutar rekam jejak setahun yang lalu
apakah ini mendung yang sama di hari itu?
hari dimana aku merasakan debar kencan pertama setelah bertahun aku hampir
 lupa rasanya di ajak kencan dengan orang yang ku mau

hari ini apa yang kau rasa?
setahun lalu debar kita merasa yang sama
kenapa semesta tega?
ini cuaca yang sama, cuaca yang seketika berubah menjadi rintik gerimis yang merubah acara kencan kita
ah sudahlah aku tak ingin bernostalgia terlalu
 lama
hanya akan semakin menggores luka
sudahi ini semua tuhan, aku ingin kembali jatuh
 cinta

dan bahagia
itu saja..

@whiteteanosugar

a long long day ago...

Him: waktu berantem sama pacar lo, pernah nggak curhatnya sama cowok lagi?

Me  : pernah, curhat ke siapa aja yang bisa bikin nyaman

Him: entar kalo cewenya malah nyaman sama cowo yang dicurhatin terus pindah haluan?

Me  :
 ini nanya ke gue personally atau secara umum? ya itu mah resiko sih, balik lagi ke cewenya aja

Him: kalo lo, gimana?

Me  : gue pernah punya cowok terus gue curhat sama temen gue cowok yang juga temennya pacar    gue ketika itu, waktu gue putus sama pacar gue, gue jadian sama cowok yang gue curhatin itu yang juga temen gue dan temen mantan gue.
tapi ada juga temen cowok yang gue curhatin terus, karena nyaman, tapi yaa emang cuma temen aja ampe sekarang nggak ada apa-apa.
ada juga tempat curhat gue yang akhirnya gue jatuh
 cinta sama dia.

Him: terus gue yang mana?

Me  : lo maunya yang mana?

Him: yang ketiga kayanya nih

Me  : kenapa bisa nebak yang itu?

Him: emang begitu kejadiannya

Me  : lo ngerasa gue begitu yah? kalo gitu kalimatnya gue ganti

Him: yaudah ganti

Me  : ada juga tempat cerita gue, bikin gue nyaman, terus akhirnya gue jatuh cinta sama
 dia
, tapi kami nggak bisa bersama...


@whiteteanosugar
Hai, 

Bagaimana kabarmu disana? Apa yang kau lakukan belakangan ini? Aku masih sebegitu ingin tahunya. Masih sepeduli itunya. Masih sebegitu memikirkannya. 
Apa kabar hatimu? Bagaimana rasanya ketika ia patah? Apakah senyeri ketika kau mematahkan milikku? Sebegitu ingin tahunya aku, sekhawatirnya itu aku bahkan ketika hatimu dipatahkan orang lain.

Ngomong-ngomong hari ini di tempatku hujan, di sana jugakah? Aku rindu bertukar kabar denganmu. Aku rindu isi pesan sesederhana “hai, di sini hujan” atau “paginya cerah, jangan lupa olahraga!” atau “aku punya resep masakan baru!” ah ya, aku masih banyak berharap pesan-pesan seperti itu kembali muncul di layar ponsel ku.

Sudahlah, terlalu banyak mengingatmu tak baik untuk kesehatan hatiku. Baik-baik kau di sana, baik-baik kau menata hati. Semoga ia cepat pulih.


Ah bahkan aku masih saja mendoakan hati yang pernah mematahkan hatiku.
:)



@whiteteanosugar

Seperti Domino

Kepada yang akhirnya menemukan surat ini,

Belakangan aku hampir lupa rasanya menangis, hari-hariku terasa begitu padat tapi sangat flat. Ah bukankah harusnya itu pertanda baik, ketika hari-harimu terbebas dari derai air mata?
Ya tentu, aku tahu jelas penyebabnya, tak perlu banyak menerka-nerka. Ada yang hilang, pengisi hati beserta segala rutinitasnya.
Kau tahu? tempatmu mungkin se-spesial itu, hingga ketika kau pergi seperti tak tersisa, hampa. Aku hampir lupa caranya berekspresi, semua sama, datar saja.

Lalu kemarin, aku seperti tau arti matahari di musim penghujan. Aku bagai tau rasanya menemukan tetes air di padang sahara, senyumku kembali.

Ternyata aku masih pintar berpura-pura, kau pun. Sandiwara. Sepertinya kita berhak akan piala citra. Dua-duanya seakan biasa saja, tanpa beban, tanpa luka, bebas, lepas, kita melebur, menjadi tawa di udara.

Setelahnya aku sadar, di antara kita memang ada cinta. Masih ada.
Tapi arahnya sudah tak lagi sama.
Aku mencintaimu, masih.. dan kau mencintainya, sangat.

Kita benar-benar seperti domino, aku jatuh untukmu dan kau jatuh untuk orang lain, tidak bisakah jika kita saling jatuh untuk satu sama lain?

Bodoh! 
Iya, aku yang bodoh. Masih saja  jatuh untukmu berulang-ulang.
Kau juga, bodoh. Kenapa terus mengejar cinta yang mengurungmu? kenapa bertahan dengan cinta yang tak membebaskan?
Iya, kita sama-sama bodoh. Mungkin itu esensi cinta, melumpukan logika, mengagungkan rasa. 

Tapi kau tau? ada yang lebih menyedihkan dari kebodohan kita berdua, tau apa?
Aku yang ikut merasa sakit melihat kau semenderita itu, aku yang ikut merasakan sedihmu ketika ternyata cinta menyakitimu.

Tapi sejujurnya aku iri, kau begitu berjuang untuknya, sedang dulu? ah sudahlah, aku seperti sedang melihat diriku di cermin ketika dulu mengejarmu..

:)

@whiteteanosugar.blogspot.com

Minggu, 02 Februari 2014

Tahu Diri

By: Maudy Ayunda
Hai, selamat bertemu lagi..
Aku sudah lama menghindarimuSialkulah kau di siniSungguh tak mudah bagikuRasanya tak ingin bernafas lagiTegak bediri di depanmu kiniSakitnya menusuk jantung iniMelawan cinta yang ada di hati
Dan..upayaku tahu diri..Tak slamanya berhasilPabila kau muncul terus beginiTanpa pernah kita bersamaPergilah,menghilang sajalah lagi
Bye, selamat berpisah lagiMeski masih ingin memandangimuLebih baik kau tiada di siniSungguh tak mudah bagikuMenghentikan sgala khayalan gilaJika kau ada dan ku cuma bisaMeradang menjadi yang di sisimuMembenci nasibku yang tak berubah
Berkali-kali kau berkataKau cinta tapi tak bisaBerkali-kali ku tlah berjanjiMenyerah....
Dan..upayaku tahu diriTak slamanya berhasil
Pergilah,menghilang sajalahPergilah,menghilang sajalah lagi...
Saya yakin..
Seberapa kalipun saya jatuh,
Akan ada Dia yang membangunkan saya kembali.
Seberapa seringnya saya salah arah,
Akan ada Dia yang meluruskan jalan.

Saya yakin..
Untuk setiap dari mereka yang Dia hadirkan,
adalah bagian dari caraNya untuk mentuakan saya.
Untuk menyadarkan jika saya bukan anak belasan tahun lagi yang masih mencla-mencle dan asal iya iya mau mau saja.

Saya yakin..
Dua tahun sepersekian bulan ini,
adalah sebatas doa yang nantinya berwujudkan tentang apa yang saya butuhkan, senyatanya.

Saya yakin..
Dengan teramat sayangnya Dia sama saya,
saya diberi tahu akan mereka-mereka yang memang sudah seharusnya tidak nampak baik.

Saya yakin..
Masih banyak hal yang harus saya pelajari tentang mereka, supaya kata Dia.. Saya nggak salah langkah lagi.
Supaya saya tahu bagaimana caranya mengambil sikap, supaya saya tahu bagaimana caranya menerima.

Saya yakin..
Kemanapun pikiran saya tertuju,
adalah cara Dia untuk setahap demi setahap mewujudkan doa itu.
Menuntun perihal arah mana yang harus saya ambil.
Tentang kamu, kamu yang lain, atau siapapun itu..
Keyakinan akan ada, sampai akhirnya Dia benar-benar menyadarkan kepada saya bahwa..
"Iya, kamu yang itulah isi doa saya selama ini".



Minggu, 19 Januari 2014

Ada beberapa sendok harapan dalam larutan pintamu yang juga kamu amin-kan dengan berkali-kali adukan.
Ketika akhirnya nanti kamu bilang “manis”, saat itu kamu akan khusyuk dengan penuh rasa syukur.
Dan aku akan menonverbalkan, mungkin dengan berapapun desibelnya, juga ikut bahagia. Walaupun tak pernah kamu tau.
Aku terlalu takut, takut untuk menjamah pintamu. Pintamu yang aku pikir tentang makhluk mars yang bukan aku.
Akan kubiarkan kau meresapi untuk setiap amin-mu, lalu kudengar saja sendiri melodi tersiratku..

*lagu* “Inginku, bukan hanya jadi temanmu.. atau sekedar sahabatmu, yang rajin dengar ceritamu..”

Ada beberapa bagian, yang bikin aku nggak bisa ngomong ke kamu. Bukan karena aku nggak mau, tapi nggak bisa.
Nggak bisa ngebuat semuanya jadi berakibat.
Iya, panggil saja aku pecundang perasaan.
Yang penting bisa nemenin kamu nyeduh harapan.
Yang penting bisa megangin payung buat kamu waktu kita maen bareng pas hujan.
Yang penting bisa gandeng tangan kamu waktu nyebrang.
Yang penting bisa kamu telfon, ya.. walaupun cuma waktu “kamu dimana? Aku lagi butuh kamu sekarang..”
Nggak papa, aku ikhlas..
Pun jika nanti muaranya tidak menuju kepadaku.



Eh, sebentar...
Kenapa ada satu judul tulisan yang tidak aku kenal di folder notebook ku?
“Kamu, semuanya kamu.”
Hah?

SEMENJAK DIA MENULIS APA YANG DIA RASA..
BAHKAN MUNGKIN JAUH SEBELUM DIA MENULISNYA..
AKU TAU, BAHWA ADA SESUATU YANG BEDA YANG AKU RASA TERHADAP SIKAPNYA.
BUKAN UNTUK SEORANG TEMAN TERNYATA, TAPI UNTUK SESEORANG YANG INGIN DIA MILIKI NANTINYA..
BUKAN SESUATU YANG BIASA, HINGGA SEMUANYA TERJADI BEGITU SAJA.
BUKAN AKU TAK TAU TENTANG ITU. AKU TAU, AKU TAU, AKU TAU..
KAMU DIAM, TAPI BUKAN BERARTI “DIAM”.
TAPI.. AKU TAU, KAMU DIAM UNTUK MENCOBA MELAKUKAN APA YANG INGIN KAMU LAKUKAN, TAPI TAK PERNAH SANGGUP MELAKUKANNYA..
DAN KAMU TAU?
SESUNGGUHNYA RASA ITU JUGA YANG KIAN MELETUP DISINI (HATI).
JIKA SAJA KAMU TANYA TERHADAP SIAPAKAH RASA INI ADA?
TERHADAP SESEORANG YANG HANYA MAMPU UNGKAPAN RASA LEWAT TULISANNYA, SESEORANG YANG SLALU MENCOBA UNTUK MENATAPKU, DAN SESEORANG YANG INGIN AGAR AKU SLALU BAIK-BAIK SAJA..

Aku akan ada disana, jam 7 nanti. Di tempat biasa kamu menemaniku menyeduh harapan.

Ah, Tuhan memang ajaib.
Dua tahun tiga bulan aku mengagumimu dalam diam. Tiga bulan sembilan hari aku mengenalmu. Kini, terima kasih untuk doa-doa yang terkabulkan, Tuhan..
Terima kasih teruntuk hatimu yang mengizinkan aku untuk membuka pintu, untuk kemudian tinggal didalamnya.
Anggap saja ini surat cinta bersambung.





Sincerely,


yours   :)